Black Horses Rilis Album Ketiga Bertajuk Jahanam
Jakarta, VIVA – Band rock asal Jakarta, Black Horses, menunjukkan transformasi musikal mereka melalui album terbaru bertajuk Jahanam. Mereka tidak hanya membawa energi liar di atas panggung, tetapi juga memberikan suara lebih lantang terkait situasi sosial yang mereka rasakan saat ini.
Viral Lagu “Siti Mawarni”, BNN Langsung Gerebek Kampung Narkoba di Sumut
Album ketiga Black Horses menjadi momen penting dalam perjalanan mereka karena seluruh lagu di album ini ditulis dalam bahasa Indonesia. Hal ini sebagai upaya mendekatkan diri dengan pendengar tanpa kehilangan identitas garang yang melekat pada mereka. Diproduseri oleh John Paul Patton alias Coki, Jahanam hadir dengan nuansa classic rock yang tetap mentah dan kotor namun terdengar lebih matang. Black Horses juga mulai merambah eksplorasi konsep musikal baru yang dibalut lirik satir dan realistis.
Danes Rabani Debut Album di Usia 18, Dapat Dukungan Iwan Fals hingga Musisi Senior
Single “Tirani Tua” dan “Distorsi Menggema” turut menjadi bagian dari album ini. Lagu andalan setelah perilisan album penuh adalah “Jejak Waktu”, yang menjadi penanda evolusi baru bagi Black Horses. Lagu tersebut terasa lebih dewasa tanpa kehilangan karakter keras mereka. Mereka ingin menunjukkan bahwa kemarahan dan kritik bisa disampaikan tanpa harus menggunakan umpatan atau kata-kata kasar.
Perilisan video musik “Jejak Waktu” semakin menegaskan arah baru band ini. Visual dan atmosfer yang dibangun terasa lebih emosional, tetapi tetap mengandung bara khas Black Horses. Oscar menyatakan bahwa album ini adalah respons kepada pendengar untuk bisa lebih relate dengan situasi sekitar, tanpa peduli konteksnya. Lucky menambahkan bahwa ini bukan sekadar proyek musik biasa bagi mereka, tapi sebuah penanda zaman dari Black Horses untuk masyarakat Indonesia.
Coki mengakui bahwa tantangan terbesar dalam proses kreatif album ini adalah menyatukan idealisme musik dengan kedekatan terhadap audiens.












