Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati, menggarisbawahi pentingnya kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam industri animasi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Saat kunjungan kerja reses ke Studio Animasi Manimonki di Surakarta, Jawa Tengah, Rahayu menegaskan bahwa AI seharusnya dilihat sebagai mitra dan bukan sebagai musuh. Bahkan film AI dari Indonesia sudah meraih penghargaan di ajang internasional seperti Cannes.
Rahayu mendorong animator lokal agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan AI dalam proses kreatif. Namun demikian, ia menekankan perlunya keseimbangan antara teknologi dan peran manusia dalam produksi animasi. Para animator harus tetap memiliki ruang, terus berkarya, dan mampu berkolaborasi dengan teknologi tanpa tersingkir.
Lebih lanjut, Rahayu menyoroti pentingnya regulasi yang jelas, adaptif, dan inklusif dalam menghadapi revolusi teknologi di sektor ekonomi kreatif. Ia mendesak untuk adanya pembahasan lintas komisi dan kementerian guna menyusun kerangka hukum yang dapat menjawab tantangan AI dan melindungi pekerja kreatif.
Rahayu juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi dalam menyusun peta jalan pemanfaatan AI di sektor kreatif. Inovasi teknologi harus selalu didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip keadilan. Indonesia diharapkan mampu menjadi pemimpin dalam transformasi digital yang inklusif dan berkeadilan, terutama di sektor kreatif yang menjadi kekuatan utama bangsa ke depan.












