Kemenkes: 2 Juta WNI Berobat ke Luar Negeri, Bali Solusinya?

Minat terhadap layanan kesehatan dan kecantikan di Indonesia mulai bergeser. Pasien tidak lagi hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga mempertimbangkan kualitas tenaga medis, teknologi yang dipakai, serta pengalaman perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pribadi.

Perubahan perilaku tersebut berlangsung ketika sebagian masyarakat masih memilih menjalani perawatan di luar negeri. Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar dua juta orang Indonesia berobat ke luar negeri setiap tahun. Nilai pengeluaran untuk berbagai layanan kesehatan itu diperkirakan mencapai Rp176 triliun.

Layanan medis berstandar internasional

Besarnya arus pasien ke luar negeri turut membuka peluang pengembangan layanan medis berstandar internasional di dalam negeri. Pendekatan yang mulai diperkenalkan tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga menggabungkan keahlian dokter dari sejumlah negara dengan pelayanan yang lebih personal.

Bidang yang masuk dalam perkembangan tersebut antara lain bedah estetik dan longevity, yakni upaya menjaga kualitas kesehatan seiring bertambahnya usia. Konsep ini mencakup lebih dari sekadar penampilan, karena turut membahas kesehatan perempuan, restorasi rambut, pengobatan regeneratif, serta pemeliharaan kebugaran dalam jangka panjang.

“Longevity adalah new luxury. Bukan lagi sekedar tentang hidup lebih lama, melainkan tentang menjalani setiap tahunnya dengan kondisi terbaik, terlihat lebih baik, merasa lebih baik, dan tetap memiliki performa optimal,” ujar Dr. Dominic Schaffner, Founder and Medical Director Biogeni x® Regenerative Medicine & Longevity Australia and Asia di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Schaffner, perkembangan ilmu kedokteran kini membuka kemungkinan untuk memperlambat proses penuaan. Ia juga menyebut peluang membalikkan sebagian efek penuaan mulai berada di depan mata.

Bali diperkenalkan sebagai destinasi perawatan

Bali menjadi salah satu lokasi yang diperkenalkan sebagai pilihan destinasi layanan medis. Gagasan tersebut dibawa The Solitaire melalui partisipasinya dalam Art Jakarta 2026 yang berlangsung pada 2-4 Oktober.

Dalam kegiatan itu, The Solitaire memperkenalkan konsep pusat bedah estetik dan longevity yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur. Kehadiran pusat tersebut diarahkan untuk mendekatkan akses masyarakat terhadap tenaga ahli internasional sekaligus menawarkan pengalaman perawatan yang disusun secara personal.

“Kami ingin menghadirkan akses yang lebih dekat pada para ahli internasional dan pengalaman perawatan yang dirancang secara personal di Bali. Art Jakarta menjadi momen untuk memperkenalkan visi itu,” kata Renny Hasibuan, General Manager Marketing The Solitaire.

Pendekatan personal juga dinilai penting dalam layanan estetik karena setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Dr. Marco Faria Correa, Founder and Medical Director WCPS yang memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun, menilai teknologi dapat membantu dokter memahami kondisi pasien secara lebih mendalam.

Dengan pemahaman tersebut, dokter dapat menyusun rencana tindakan secara lebih presisi. Perkembangan layanan di Bali pun tidak hanya ditempatkan sebagai upaya memperluas pilihan perawatan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan layanan medis yang menggabungkan keahlian internasional, teknologi, dan kebutuhan individual pasien.

Source link