Berita  

Keselamatan Warga dan Jalur Pelayaran di Anak Krakatau

JAKARTA, FraksiGerindra.id — Komisi V DPR RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua Andi Iwan Darmawan Aras menyoroti peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Hal ini mengundang perhatian terkait kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi ancaman bencana yang dapat merugikan masyarakat dan mengganggu jalur pelayaran.

Pentingnya Fokus pada Keselamatan Masyarakat

Menurut Andi Iwan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam mengantisipasi dampak dari Status Level III atau Siaga Gunung Anak Krakatau. Keberpihakan pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan masyarakat pesisir menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan dalam upaya kesiapsiagaan.

Langkah Antisipasi yang Ditekankan

Sebagai langkah awal, penting bagi pemerintah dan instansi terkait untuk memastikan kesiapan logistik, sistem pelayanan kesehatan, lokasi pengungsian, dan perlindungan sosial. Hal ini akan memungkinkan respons cepat dan efisien apabila situasi darurat terjadi. Selain itu, edukasi kebencanaan berbasis komunitas juga menjadi kunci agar masyarakat dapat merespons informasi peningkatan aktivitas gunung dengan benar.

Di sektor transportasi laut, Andi Iwan menekankan pentingnya menjaga keamanan infrastruktur dan operasional pelayaran di Selat Sunda. Meskipun layanan penyeberangan masih berjalan normal, langkah mitigasi harus selalu siap dilakukan.

Andi Iwan juga meminta adanya koordinasi lintas sektor yang melibatkan berbagai lembaga terkait guna memantau dan merespons perubahan aktivitas vulkanik dengan cepat dan terkoordinasi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan sistem penanggulangan bencana yang lebih adaptif dan efektif.

Persiapan Terhadap Potensi Bencana

Lebih jauh, Andi Iwan menyoroti perlunya pemantauan terus-menerus terhadap potensi bencana Anak Gunung Krakatau. Selain persiapan fisik dan infrastruktur, aspek perlindungan sosial, kondisi psikologis masyarakat, serta pendekatan mitigasi berbasis risiko juga perlu diperhatikan secara serius.

Simulasi kesiapsiagaan, latihan evakuasi, pembaruan peta risiko, dan integrasi sistem komunikasi antarinstansi menjadi bagian penting dari upaya pencegahan bencana yang harus dilakukan secara rutin. Hal ini akan memastikan bahwa masyarakat dan infrastruktur dapat merespons dengan baik dalam menghadapi potensi ancaman dari Gunung Anak Krakatau.

Source link