Dua Calon Jemaah Haji Asal Sumut Dipulangkan ke Daerah Asal Gara-gara Pikun
Makkah, VIVA – Sebagai salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan ibadah haji, lempar jumrah memiliki sejumlah aturan yang harus dipahami dengan baik oleh setiap jamaah. Meskipun terlihat sederhana, prosesi ini memerlukan pemahaman yang tepat agar dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai tuntunan syariat.
Arti dan Tuntunan Lempar Jumrah dalam Ibadah Haji
Jumrah merujuk pada batu-batu kecil yang digunakan dalam ritual pelemparan. Ketika berada dalam konteks ibadah haji, lempar jumrah mengandung makna melontarkan batu kerikil ke titik tertentu pada waktu yang telah ditetapkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Hukum melaksanakan lempar jumrah sendiri telah disepakati oleh para ulama sebagai wajib, didasarkan pada hadis riwayat Muslim. Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga jenis jumrah yang perlu diketahui, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, masing-masing memiliki makna simbolik yang mendalam.
Tata Cara dan Doa yang Dianjurkan Saat Melaksanakan Lempar Jumrah
Proses lempar jumrah dimulai pada hari Nahar atau 10 Dzulhijjah, di mana jamaah hanya melempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Selanjutnya, pada hari-hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah), pelemparan dilakukan terhadap ketiga jumrah secara berurutan, dimulai dari Ula, kemudian Wustha, dan diakhiri dengan Aqabah.
Dalam praktiknya, jamaah disarankan untuk berdiri menghadap kiblat saat melempar jumrah. Setiap batu dilempar satu per satu sebanyak tujuh kali dengan mengangkat tangan, sambil membaca takbir “Allahu Akbar” pada setiap lemparan. Selain itu, ada doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah melempar jumrah.












