Berita  

Tolak Usulan Kenaikan BBM: Hekal Ingatkan Risiko Inflasi

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memang merupakan perdebatan yang perlu diperhatikan dengan cermat. Terlepas dari dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kenaikan harga BBM juga berdampak langsung pada masyarakat melalui peningkatan harga barang dan jasa. Menurut Hekal, pada Jumat, 10 April 2026, BBM memiliki peranan strategis yang besar dalam biaya distribusi dan produksi. Sehingga, kenaikan harga BBM secara pasti akan membawa dampak pada berbagai sektor, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan tarif jasa.

Hekal menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM akan menjadi pemicu berantainya kenaikan biaya logistik, harga pangan, dan biaya transportasi. Hal ini menjadi perhatian penting karena dapat mendorong inflasi yang lebih tinggi. Di tengah tekanan ekonomi global, Hekal menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga untuk melindungi daya beli masyarakat. Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang menahan harga BBM bersubsidi sebagai kebijakan yang tepat untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM selalu berdampak signifikan terhadap inflasi nasional. Oleh karena itu, setiap kebijakan harus mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Hekal menekankan bahwa stabilitas harga dan perlindungan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan fiskal yang diambil. Dalam konteks kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, Hekal melihat keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM sebagai langkah keberpihakan kepada rakyat dalam menjaga stabilitas ekonomi. Menahan harga BBM dianggap sebagai langkah konkret untuk mencegah lonjakan inflasi dan melindungi masyarakat di tengah ketidakpastian situasi global.

Source link