Era AI: Dampak pada Pers Indonesia

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), membawa pers Indonesia ke fase penting dalam perjalanannya. Menurutnya, tantangan saat ini bukan hanya terletak pada kecepatan informasi, namun juga pada ketepatan informasi yang disajikan kepada masyarakat. Di era disinformasi seperti sekarang, kata Meutya, penting untuk memastikan informasi yang disampaikan benar dan tepat. Kemkomdigi tetap berkomitmen untuk menjaga kebebasan berekspresi dan pers, sambil tetap bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Selain sebagai penyedia informasi, tugas pers juga melibatkan perlindungan masyarakat dari informasi yang tidak benar.

Masih dalam konteks itu, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyoroti situasi media massa yang menghadapi disrupsi digital, sebuah fenomena global yang dialami tidak hanya oleh Indonesia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menambahkan bahwa media di Indonesia mengalami disrupsi dua kali, pertama oleh internet yang mendorong migrasi media tradisional ke platform digital, dan kedua oleh teknologi baru seperti AI. Nezar menyampaikan bahwa masa depan jurnalisme lebih menjurus pada bagaimana teknologi seperti AI bisa mengoptimalkan sumber daya dalam ekosistem media untuk memproduksi jurnalisme yang berkualitas. Diskusi ini digelar dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pers dan teknologi.

Anggota DPR I Wayan Sudirta menegaskan bahwa pers harus menjadi cermin bagi kekuasaan agar tidak lupa diri, sekaligus menjadi kompas bagi rakyat di tengah badai disrupsi informasi. Hal tersebut menegaskan pentingnya peran pers dalam merawat demokrasi dan memberikan panduan yang jelas bagi masyarakat.

Source link