Ahmad Muzani mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada tahun 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka yang akan genap berusia 100 tahun pada tahun 2045. Beliau menekankan bahwa NU lahir di tengah masa penjajahan, di mana rakyat hidup dalam keterbatasan ekonomi dan pendidikan, namun para ulama dan kiai memiliki kesadaran yang kuat terhadap nasib bangsa dan umat.
Dari awal berdirinya, NU telah menghargai semangat perlawanan terhadap penjajahan melalui sistem pendidikan pesantren dan pengajaran agama. Kontribusi NU terus berkembang seiring berjalannya waktu, termasuk melalui lahirnya organisasi perjuangan seperti Ansor dan Banser sebelum kemerdekaan Indonesia.
Peran penting NU dalam mempertahankan kemerdekaan juga disoroti, terutama saat peristiwa November 1945 di Surabaya di mana santri dan rakyat bersatu melawan upaya penjajahan. Fatwa jihad yang dikeluarkan pada saat itu menjadi pendorong bagi persatuan dan keberanian rakyat dalam mempertahankan Republik Indonesia.
Selama periode sejarah berikutnya, NU berperan dalam menjaga ideologi negara dari ancaman komunisme, bahkan dengan pengorbanan besar dari kalangan pesantren dan santri. Selain itu, NU secara konsisten hadir di tengah masyarakat ketika terjadi bencana, memberikan ketenangan dengan doa, zikir, dan penguatan spiritual.
Ahmad Muzani menegaskan bahwa keberadaan NU yang kuat sangat penting bagi Indonesia, karena kekuatan NU merupakan cermin dari kekuatan bangsa. Menurutnya, NU yang kuat dapat terwujud dari jamaah yang sehat, sejahtera, berpendidikan, dan hidup layak.
Dalam penutupan pidatonya, beliau menekankan bahwa perjuangan NU tidak didorong oleh pujian atau celaan, tetapi semata-mata untuk meraih ridho Allah SWT.








