Harga makanan merupakan salah satu pertimbangan utama bagi masyarakat dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari. Namun, tersembunyi di balik angka yang tercantum di etalase pasar dan struk belanja, terdapat dampak yang lebih luas yang seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Dampak ini mulai diperhatikan dalam studi yang mengungkap biaya tersembunyi dalam sistem pangan di Indonesia.
Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) bersama WRI Indonesia telah menyampaikan hasil kajian mereka dalam laporan berjudul The Hidden Costs of Indonesia’s Food System. Laporan ini mengulas dampak tidak langsung dari sistem pangan nasional terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi. KSPL adalah bagian dari Food and Land Use Coalition (FOLU), sebuah inisiatif global yang berupaya mendorong perubahan menuju sistem pangan dan tata guna lahan yang lebih berkelanjutan.
Dari riset yang dilakukan, biaya tersembunyi dalam sistem pangan Indonesia diperkirakan mencapai USD210,7 hingga USD622,3 miliar, setara dengan 28,5 hingga 45,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023. Angka ini bahkan melebihi kontribusi langsung sektor pangan terhadap perekonomian nasional. Biaya tersembunyi ini tidak tercermin dalam harga makanan yang dibeli secara langsung oleh masyarakat.
Salah satu penyumbang biaya terbesar berasal dari sektor kesehatan, di mana pola konsumsi yang tidak seimbang, akses terbatas terhadap makanan sehat, dan paparan polusi dari sistem produksi pangan semuanya berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit. Dalam laporan tersebut, biaya kesehatan akibat obesitas saja diperkirakan mencapai USD66,4 hingga 210,9 miliar, terutama karena dampak menurunnya produktivitas masyarakat.
Kesadaran akan biaya tersembunyi dalam sistem pangan ini penting untuk mengeluarkan kebijakan yang tepat guna meningkatkan keberlanjutan dan keselamatan makanan bagi masyarakat Indonesia.










