Pada hari Kamis, 13 November 2025, pukul 21:00 WIB, Jakarta, VIVA – Perubahan besar dalam cara masyarakat menikmati hiburan dan informasi terjadi di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang. Teknologi memungkinkan segala hal menjadi instan dan mudah diakses, termasuk karya sastra yang kini bertransformasi menjadi format digital. Banyak pembaca beralih dari buku cetak ke e-book, blog sastra, dan konten literer di media sosial seperti Instagram dan TikTok. Platform digital ini memfasilitasi generasi muda untuk menemukan, berbagi, dan menciptakan karya sastra dengan lebih leluasa. Fenomena ini menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup digital yang dinamis dan inklusif.
Di Indonesia, tren sastra menunjukkan kebangkitan baru meskipun gempuran teknologi dan budaya instan. Komunitas sastra tumbuh pesat di dunia maya, dan karya-karya penulis Tanah Air semakin dihargai oleh masyarakat luas. Festival literasi, penghargaan sastra, serta diskusi daring menjadi ajang untuk merayakan kekuatan kata-kata dan refleksi kemanusiaan. Sebagian kalangan muda kini melihat membaca dan menulis sebagai ekspresi diri yang berkelas, setara dengan tren gaya hidup modern lainnya. Sastra tidak lagi dianggap kuno, melainkan sebagai simbol kecerdasan emosional dan kepekaan sosial yang penting di era digital.
Dalam konteks tersebut, empat penerima Penghargaan Sastra 2025 melambangkan kebangkitan sastra di Indonesia. Penghargaan prestisius ini diberikan melalui tiga lembaga yaitu Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Lembaga Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, penghargaan ini menjadi penegasan bahwa karya sastra yang memiliki kedalaman estetik, kekuatan moral, dan empati kemanusiaan tetap menjadi pondasi kehidupan intelektual bangsa.
Sutardji Calzoum Bachri, yang dikenal sebagai “Presiden Penyair Indonesia,” menerima Satupena Lifetime Achievement Award 2025 atas dedikasinya dalam merevolusi bahasa Indonesia melalui karya-karya monumental seperti O Amuk Kapak dan Tragedi Winka & Sihka. Romo Sindhunata, di sisi lain, mendapatkan Dermakata Award 2025 kategori Non-Fiksi karena kemampuannya mengangkat kearifan rakyat kecil menjadi refleksi filsafat hidup melalui karya seperti Ilmu Ngglethek dan Opo Jare Tekek. Itulah sebagian dari perjalanan kebangkitan sastra di era digital yang dijalani oleh Indonesia.












