Mengatasi Diabesity: Solusi untuk Diabetes dan Obesitas

Diabetes semakin menjadi masalah kesehatan yang mengkhawatirkan di wilayah Asia-Pasifik (APAC), dengan perkiraan akan menjadi penyumbang terbesar terhadap beban ekonomi global akibat diabetes pada tahun 2030. Faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas, di mana peningkatan berat badan dapat menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan kadar gula darah. Menurut Dr. Alex Teo, Director, Research Development and Scientific Affairs, Asia Pacific, faktor risiko ini semakin meningkat di APAC karena gaya hidup urbanisasi yang kurang gerak dan penuh stres.

Di Indonesia sendiri, data dari International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 20,4 juta orang yang hidup dengan diabetes, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Prevalensi diabetes di Indonesia bahkan di atas rata-rata regional Asia Tenggara. Selain itu, perlu diwaspadai bahwa kondisi “TOFI” atau “thin outside, fat inside” umum terjadi di antara orang Asia, di mana seseorang mungkin memiliki lemak tubuh berlebih meskipun berat badannya normal.

Dalam menghadapi kondisi “diabesity” atau diabetes dan obesitas yang muncul bersamaan, penting untuk mengatasi pola makan buruk dan kurangnya aktivitas fisik secara berkala sebelum menjadi masalah kesehatan yang serius. Dengan melakukan perubahan kecil dan sadar setiap hari, seseorang dapat mengurangi risiko terkena diabetes dan meningkatkan sensitivitas insulin. Menyadari betapa pentingnya kesehatan dan pola makan yang sehat dapat membantu mencegah dampak buruk diabetes dan obesitas di masa depan.

Source link