Tren Pariwisata Global: Dari Jumlah Wisatawan ke Membaca Perilaku
Gyeongju – Tren pariwisata global saat ini mengalami perubahan signifikan. Sebelumnya, keberhasilan destinasi wisata diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Namun, kini fokus tersebut bergeser ke kemampuan membaca perilaku traveler modern yang terus berubah.
Perubahan Paradigma Pariwisata
Poin ini menjadi sorotan utama dalam PATA Annual Summit 2026 yang berlangsung di Kota Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan, pada 11-13 Mei 2026. Lebih dari 550 delegasi dari 35 destinasi di kawasan Asia Pasifik turut hadir dalam forum pariwisata internasional ini, termasuk delegasi dari Indonesia.
Ardiyansyah Djafar dari PATA Indonesia Chapter, sebagai salah satu delegasi yang hadir, mengungkapkan bahwa industri pariwisata kini memasuki era baru yang lebih kompetitif dan dinamis.
Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia
Menurut informasi, dalam PATA Annual Summit 2026, diprediksi bahwa masa depan pariwisata Asia Pasifik tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang, tetapi oleh kemampuan dalam membaca perubahan perilaku wisatawan. Dengan proyeksi jumlah kunjungan wisatawan internasional di Asia Pasifik mencapai 761,2 juta pada tahun 2028, ada dampak signifikan yang bisa dirasakan.
Terkait dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), pola perjalanan wisatawan juga diprediksi akan semakin dipengaruhi. Cara wisatawan mencari inspirasi, memilih destinasi, dan melakukan pemesanan akan lebih terkait dengan teknologi AI. Selain itu, destination marketer juga dihadapkan pada tantangan baru karena wisatawan menjadi lebih selektif dan menginginkan pengalaman yang lebih personal.
Sementara bagi Indonesia, tantangan bukan hanya terletak pada mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi juga bagaimana mengubah potensi pariwisata menjadi pengalaman yang lebih autentik, digital-friendly, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi bagi semua wisatawan.
Menyongsong Masa Depan Pariwisata
Dari pandangan Ardiyansyah, wisata berbasis pengalaman, budaya lokal, keberlanjutan, dan konektivitas digital akan menjadi faktor kunci dalam menarik minat wisatawan di masa mendatang. Dengan capaian kunjungan wisatawan yang semakin meningkat, Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang dalam industri pariwisata global.












