Berita  

Serangan Seks sebagai Alat Israel untuk Usir Warga Palestina

Pakar hak asasi manusia dan hukum melaporkan fakta mengerikan terkait taktik tentara serta pemukim Israel yang menggunakan kekerasan berbasis gender, pelecehan, hingga serangan seks untuk memaksa warga Palestina angkat kaki dari rumah mereka di Tepi Barat. Ini adalah laporan serius yang mengungkapkan praktik kekerasan seksual yang sistematis yang bertujuan untuk merusak mental komunitas lokal agar mereka menyerah dan pergi. Sebuah kelompok organisasi kemanusiaan internasional menemukan bahwa kekerasan seksual dimanfaatkan untuk mengendalikan komunitas dan memengaruhi keputusan warga apakah mereka harus tinggal atau mengungsi demi keselamatan keluarga mereka.

Hasil survei yang disebut “Sexual violence and forcible transfer in the West Bank” memperlihatkan bahwa ketakutan akan serangan seksual telah menjadi faktor yang memaksa warga Palestina untuk meninggalkan rumah mereka. Para korban serangan seksual merasakan ketakutan yang luar biasa sehingga membuat mereka sulit untuk bertahan. Ini mengakibatkan dampak sosial yang serius, termasuk anak perempuan yang terpaksa putus sekolah dan dinikahkan dini oleh orang tua mereka sebagai upaya perlindungan terakhir.

Seperti yang disampaikan oleh Kifaya Khraim, Manajer Unit Advokasi di Women’s Centre for Legal Aid and Counselling (WCLAC), banyak perempuan di Tepi Barat mengalami kendala ekonomi karena terisolasi di rumah akibat ancaman kekerasan seksual. Data yang terkumpul baru merupakan puncak gunung es, karena banyak korban tetap bungkam akibat stigma sosial terkait kekerasan seksual. Selanjutnya, Milena Ansari dari Physicians for Human Rights – Israel juga menyoroti pembiaran hukum terhadap para pelaku, menunjukkan kurangnya keadilan bagi korban kekerasan seksual di Palestina. Diskusi di tingkat pemerintahan Israel yang tidak memberikan prioritas pada hak asasi manusia warga Palestina sangat memprihatinkan, terutama dalam penanganan kasus kekerasan seksual.

Source link