Berita  

Komisi VII DPR RI Minta Dukungan Konkret untuk Industri Kreatif di Studio Alam Gamplong

Studio Alam Gamplong merupakan contoh nyata perjuangan pelaku ekonomi kreatif yang mampu berkembang tanpa dukungan anggaran negara. Menilai kondisi tersebut menjadi ironi, mengingat besarnya potensi kawasan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan sektor pariwisata. Pelaku UMKM ekonomi kreatif yang berdiri tanpa bantuan dari negara sangat disayangkan jika pemerintah tidak memberikan dukungan yang diperlukan, baik dari sisi promosi, pendanaan, maupun aspek lainnya.

Studio Alam Gamplong memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas, tidak hanya bagi sektor ekonomi kreatif, tetapi juga sektor lain seperti kuliner dan kriya. Konsep kawasan kreatif semacam ini telah berkembang di berbagai negara dan keberhasilan pengembangannya oleh pelaku lokal di Indonesia patut diapresiasi. Namun, masih terdapat kekurangan perhatian terhadap pengembangan lanjutan inisiatif ekonomi kreatif di Indonesia. Persoalan keberlanjutan menjadi sorotan yang perlu ditanggapi lebih serius.

Pemerintah pusat dan daerah perlu mengidentifikasi berbagai kebutuhan mendasar yang masih menjadi kendala, seperti promosi, akses pembiayaan, dan infrastruktur. Dukungan konkret dalam bentuk infrastruktur juga harus diperhatikan untuk memperbaiki kondisi jalan menuju lokasi dan mendukung destinasi wisata yang dapat menarik investasi dan wisatawan. Komisi VII DPR berperan dalam memberikan dukungan optimal untuk ekosistem ekonomi kreatif, dengan melakukan pengawasan, legislasi, dan alokasi anggaran guna memastikan perkembangan yang maksimal.

Kunjungan Komisi VII DPR RI ke Studio Alam Gamplong disambut positif oleh sutradara dan produser film, Hanung Bramantyo. Kehadiran para legislator dianggap sebagai momentum penting untuk memperlihatkan realitas kerja pelaku industri kreatif, khususnya di bidang perfilman. Kerja sama dengan pemerintah desa setempat menjadi kunci dalam pengembangan Studio Alam Gamplong sebagai pusat produksi film sekaligus destinasi wisata. Konsep kawasan dengan arsitektur era 1800 hingga 1950 dihadirkan untuk memberikan pengalaman unik bagi pengunjung dan memperkuat identitas kawasan sebagai wisata sejarah. Semua ini bertujuan agar pengunjung dapat merasakan bagaimana kehidupan masa lalu dan memperoleh pengalaman yang berkesan.

Source link