Pemerataan akses internet di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) menjadi fokus utama dalam mendukung kebutuhan konektivitas yang semakin meningkat. Jaringan yang stabil sangat penting untuk menunjang berbagai sektor kehidupan seperti layanan publik, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, tantangan geografis dan minimnya infrastruktur dasar masih menjadi hambatan utama dalam percepatan transformasi digital di wilayah tersebut. Banyak titik di wilayah 3T berada di area dengan kondisi alam sulit dijangkau oleh jaringan fiber, mulai dari perbukitan hingga pulau-pulau kecil.
Dalam mengatasi tantangan ini, teknologi satelit menjadi salah satu solusi yang relevan dan efektif. Pendekatan dengan solusi hybrid yang menggabungkan jaringan terrestrial dan teknologi satelit mulai banyak diterapkan. FiberStar hadir sebagai solusi yang menggabungkan infrastruktur terrestrial dengan teknologi satelit untuk menjembatani kesenjangan digital di wilayah 3T. Dukungan dari Starlink memungkinkan konektivitas di daerah terpencil dapat dihadirkan lebih cepat tanpa perlu menunggu pembangunan jaringan yang kompleks.
Data tahun 2024 menunjukkan bahwa masih ada 12.548 desa yang belum memiliki akses internet memadai, dengan 30 persen sekolah di wilayah terpencil masih belum tersambung ke internet stabil. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi layanan publik seperti puskesmas, kantor desa, dan UMKM lokal untuk melakukan transformasi digital. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan terus diperluas sebagai upaya untuk mengatasi tantangan dalam pemerataan akses internet di wilayah 3T.










