Komisi XII DPR RI mempertanyakan rencana pemerintah untuk menerapkan program bahan bakar campuran E10, yang merupakan bensin dengan 10 persen etanol, dikarenakan dianggap tidak efisien secara ekonomi dan berpotensi merugikan sektor pangan nasional. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Haryadi, mengkritik penggunaan jagung sebagai bahan baku etanol yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Menurutnya, biaya produksi etanol dari jagung masih tinggi dan dapat mengganggu pasokan pakan ternak yang sedang meningkat. Komisi XII DPR RI juga menemukan bahwa penggunaan jagung sebagai bahan baku etanol bisa berdampak negatif terhadap rantai pasok pangan dan pakan nasional. Sebagai alternatif, DPR menyarankan penggunaan tebu sebagai bahan baku etanol karena pasokannya lebih stabil dan tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan. Bambang Haryadi menegaskan pentingnya kebijakan energi baru dan terbarukan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi nasional, agar tidak memberikan dampak negatif terhadap harga pangan dan membebani masyarakat. Program E10 sendiri merupakan strategi pemerintah untuk mengembangkan penggunaan bahan bakar nabati, namun masih dalam tahap kajian dan uji coba di beberapa daerah.
Home
Berita
Analisis Efisiensi Produksi Etanol oleh Bambang Haryadi: Dampak terhadap Ketahanan Pangan
Analisis Efisiensi Produksi Etanol oleh Bambang Haryadi: Dampak terhadap Ketahanan Pangan
Read Also
Recommendation for You

Partai Gerindra sekali lagi meraih apresiasi dari Komisi Informasi Pusat (KIP) karena dedikasinya dalam menerapkan…

Partai Gerindra Sumatera Utara kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban bencana alam di wilayah Sumatera….

Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-17 serta menyambut Natal dan Tahun Baru, Gerakan Kristiani…

Anggota Komisi VIII DPR RI, Alimudin Kolatlena, menyoroti pentingnya perhatian yang lebih serius dari pemerintah…

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, membahas masukan strategis dari Rektor Universitas Negeri…







