Presiden Indonesia selalu menghadiri Sidang Majelis Umum PBB sebagai salah satu anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kehadiran Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum ke-80 di New York adalah momen penting karena merupakan penampilan langsung pertama kali setelah absen selama 10 tahun terakhir. Sejak era Presiden Soekarno, pemimpin Indonesia telah mengambil kesempatan di panggung dunia PBB untuk menyuarakan pandangan bangsa. Pidato Presiden Indonesia di Sidang Umum PBB bukan hanya menjadi catatan sejarah diplomasi, tetapi juga mencerminkan arah politik luar negeri dan posisi Indonesia di kancah internasional. Berikut adalah presiden Indonesia yang pernah berpidato di Sidang Umum PBB.
Presiden pertama RI, Soekarno, menjadi pemimpin Indonesia yang pertama kali berpidato di Sidang Umum PBB ke-15 pada tahun 1960. Dalam pidatonya yang berjudul “To Build the World Anew,” Soekarno menyoroti pertarungan geopolitik, rasa kemanusiaan, dan perjuangan anti-kolonialisme serta anti-imperialisme. Pidato tersebut dianggap sebagai salah satu orasi paling berpengaruh dalam forum internasional dan menjadi pondasi politik luar negeri Indonesia. Selain itu, pidato ini dijadikan sebagai warisan inspirasi dunia dan arsip sejarah “Memory of the World UNESCO.”
Presiden berikutnya yang berpidato di Sidang Umum PBB adalah Soeharto, yang berbicara pada Sidang Umum ke-47 PBB pada tahun 1992 dengan pidato bertajuk “Pesan Jakarta.” Soeharto menekankan pentingnya kerja sama global yang lebih adil dan reformasi dalam tatanan ekonomi internasional. Presiden Soeharto kembali berbicara di Sidang Umum PBB pada tahun 1995 menegaskan peran aktif Indonesia dalam forum internasional.
Pada era reformasi, Presiden Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB pada September 2001 setelah serangan teror 11 September 2001. Megawati menggarisbawahi pentingnya kerja sama internasional melawan terorisme dan menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian global. Megawati berpidato dua kali di Sidang Umum PBB, yaitu pada tahun 2001 dan 2003.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah kepala negara Indonesia yang paling sering berpidato di Sidang Umum PBB selama sepuluh tahun masa jabatannya. Dalam pidato pada Sidang Umum PBB ke-69 tahun 2014, SBY berbicara tentang perdamaian dunia dan nilai Indonesia dalam menghadapi tantangan global. SBY konsisten menunjukkan upaya diplomasi aktif Indonesia di kancah internasional.
Presiden Jokowi, dalam masa kepemimpinannya, menyampaikan pidatonya secara virtual pada Sidang Umum PBB ke-75 dan ke-76 sebagai respons terhadap pandemi COVID-19. Sebelumnya, kehadiran Jokowi diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Meskipun tidak hadir secara langsung, Jokowi menyoroti isu-isu global seperti pemulihan ekonomi, akses vaksin, dan urgensi kerja sama internasional.
Presiden Prabowo dijadwalkan akan berpidato langsung di Sidang Umum PBB ke-80 pada tahun 2025, menjadi penampilan langsung pertama setelah lebih dari satu dekade. Prabowo akan membahas dukungan Indonesia terhadap rakyat Palestina dan menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian global. Kehadiran presiden Indonesia di Sidang Umum PBB memiliki makna simbolis yang kuat dalam politik luar negeri Indonesia.












