Berita  

Antisipasi Karhutla: Jaga Keselamatan Transportasi dan Kesehatan Warga

Musim kemarau yang semakin intens di beberapa wilayah Indonesia kembali menaikkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Sumatra bagian tengah dan selatan, Kalimantan, serta Sulawesi bagian tengah dan selatan. Berdasarkan Prospek Cuaca Mingguan BMKG Periode 25–31 Juli 2025, beberapa daerah mengalami indeks potensi karhutla kategori tinggi hingga sangat tinggi. Situasi ini perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, khususnya untuk memastikan keselamatan transportasi udara, darat, dan kesehatan masyarakat di daerah terdampak.

Anggota Komisi V DPR RI, Hj. Novita Wijayanti, menyoroti bahwa karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membawa risiko langsung terhadap keselamatan transportasi dan kesehatan masyarakat, terutama akibat penurunan jarak pandang dan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap karhutla. Penumpukan asap dari karhutla dapat membahayakan penerbangan dan pengendara di jalan, terutama di area minim penerangan dan pengawasan.

Beberapa bandara, termasuk di Riau dan Kalimantan, mulai waspada terhadap potensi penurunan jarak pandang yang berdampak pada jadwal penerbangan. Sementara itu, pengemudi di jalur darat, termasuk pengemudi logistik dan angkutan umum, menghadapi tantangan berkendara dalam kabut asap yang mengurangi visibilitas dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Novita menekankan perlunya penanganan karhutla dengan pendekatan yang komprehensif melibatkan berbagai sektor, seperti BMKG, Kementerian Perhubungan, BNPB, Dinas Kesehatan, dan pemerintah daerah. Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk memastikan data dan informasi yang disediakan BMKG dapat digunakan secara optimal dalam pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, Novita mendukung langkah BMKG dalam pemantauan yang aktif serta mengedukasi masyarakat tentang kondisi cuaca terkini. Namun, ia menekankan perlunya aksi lebih lanjut dalam modifikasi cuaca, penanggulangan titik api, evaluasi infrastruktur transportasi, dan kesiapan evakuasi di daerah rawan karhutla. Antisipasi dan tindakan proaktif jauh lebih efektif daripada respons darurat, sehingga semua pemangku kepentingan harus bekerja sama sejak dini dalam menghadapi potensi bencana.

Source link